SD “Bertaraf Internasional” BANI HASYIM


Bahasa Asing dan Pendidikan
March 13, 2009, 3:08 pm
Filed under: Kurikulum, Metode | Tags: , , ,

Pengantar

Tulisan ini sudah lama saya mulai, tapi saya banyak dapat masukan baru saat beberapa waktu lalu berkesempatan diskusi dengan salah satu teman orang tua peserta Klab Dongeng, pak (atau mas) Didit tentang pembelajaran bahasa asing (bahasa Inggris) di sekolah-sekolah sekarang ini.
Dan terakhir dari obrolan dengan kang Aat Soeratin, (salah satu guru saya tentang kebudayaan) yang sangat membangun pemikiran-pemikiran saya mengenai bahasa dan budaya.

Bahasa asing adalah sesuatu yang saat ini menjadi fokus titik perhatian banyak orang tua saat mencari sekolah bagi anaknya. Bahasa Inggris, bahkan bahasa ketiga, bahasa Mandarin misalnya seolah menjadi pertanda dari sebuah sekolah yang baik. Tulisan ini berusaha menyoroti pandangan-pandangan tersebut secara kritis, dengan harapan kita semua, orang tua, masyarakat lebih tepat mengambil sikap terhadap begitu banyak pilihan (lembaga pendidikan) yang hadir di hadapan kita semua.

Kalau salah dipahami, bisa saja terbaca bahwa saya anti bahasa Inggris atau anti sekolah-sekolah yang menawarkan Bahasa Inggris sebagai bagian utuh (integral) dari program-programnya. Sama sekali tidak, karena saya sendiri sangat suka dan berbahasa Inggris secara aktif. Saya juga sudah mengalami proses di mana hidup saya bergantung kepada kemampuan saya berbahasa Inggris. Di tulisan ini saya ingin berusaha memposisikan pembelajaran Bahasa Inggris dalam posisinya yang tepat dalam pendidikan anak-anak kita.

Bahasa Asing, Gengsi?

Pertanyaan pertama yang harus dimunculkan adalah kenapa semakin banyak orang tua begitu berambisi untuk semakin dini mendorong anak-anaknya mampu berbahasa Inggris? Saya amati faktor utamanya adalah betapa semakin ke sini, semakin masyarakat kita dibombardir dengan segala sesuatu yang berbau impor, segala yang dibayang-bayangi tema globalisasi dibelakangnya. Tumbuh kuat pandangan bahwa bahwa kita menjadi modern (maju) saat bisa berbahasa Inggris dan segala yang kita lakukan sehari-hari terkait hal-hal yang datang dari luar (diimpor).
Kalau ditinjau motivasinya secara pribadi, kemungkinan ada beberapa faktor di belakangnya. Pertama orang tua memang berencana untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri atau untuk pindah berdomisili keluar Indonesia. Ini muncul dari faktor kebutuhan.
Kedua, yang saya amati lebih banyak terjadi, motivasi orang tua lebih banyak didasari gengsi. Bangga rasanya saat anak bisa mengucap kata-kata berbahasa asing. Mungkin seperti itu tadi, ada perasaan maju atau modern. Jadi ini tumbuh lebih karena gengsi atau istilah kerennya lifestyle. Atau mungkin orang tua merasa tenang saat anaknya mampu mengucap kata-kata dalam bahasa Inggris.
Tapi kalau kita coba bertanya kritis, untuk mayoritas kita masyarakat Indonesia, apakah ada kebutuhan anak untuk segera bicara bahasa asing, berkomunikasi secara aktif misalnya dalam bahasa Inggris? Di rumah, apakah komunikasi dijalankan dalam bahasa Inggris? Lalu di masyarakat luar rumahnya? Bahasa Inggriskah? Saya kira jawabannya tidak. Lalu apa dan bagaimana selanjutnya, ini yang harus kita lihat lebih jauh. (more…)