SD “Bertaraf Internasional” BANI HASYIM


Pembelajaran SD Model Bertaraf Internasional Bani Hasyim
January 15, 2008, 8:57 am
Filed under: Uncategorized

gedung-sd1.jpg


Pembelajaran SD Model Bertaraf Internasional Banihasyim menerapkan pembelajaran dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penerapan kurikulum ini disesuaikan dengan potensi sekolah, sehingga dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan antara dengan kurikulum yang ada di sekolah dasar pada umumnya.

Selain ilmu pengetahuan, pembelajaran yang ada di sekolah ini juga menyisipkan pembelajaran keagamaan yang dapat membangun life skill santri menjadi insan yang ulil albab sesuai dengan visi sekolah ini.

Untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran yang ada, guru membuat suatu modul pembelajaran yang representatif untuk setiap mata pelajaran yang ada untuk semester ganjil dan semester genap. Penyusunan modul ini disesuaikan dengan kurikulum yang sudah dibuat sekolah.


5 Comments so far
Leave a comment

Assalamualaikum

Kemarin tanggal 26 januari adalah hari saat pembagian raport semester satu. Tepatnya pukul 8.20 kita sudah start.
Ada beberapa penjelasan yang perlu disampaikan kepada wali santri, sebagian walisantri juga penuh antusias untuk konsultasi masalah perkembangan belajar anak-anaknya selama disekolah.
Walisantri ada yang setuju ada juga yang tidaksetuju dengan pembelajaran proses di SD Bani Hasyim ini.
Saya jadi berfikir belajar dari pengalaman dan kegagalan untuk membuat paradigma baru tidak terlalu sulit. Namun merubah paradigma lama yang sudah berkembang dan mengakar itu yang sangat sulit.
Tidak sedikit walisantri yang menginginkan pendidikan untuk anaknya yang diorientasikan kepada intelgensi dan prestasi akademik yang berujung pada nilai, angka dan angka.
Bukan pada kompetensi, potensi serta moral. Yang perludijawab olwh para orang tua adalah….. Apakah nilai raport 8,9 atau 10 menjamin bahwa anaknya akan sukses dan dapat menghadapi kehidupan saat selesai dari dunia pendidikan formal?
sebaliknya jika nilai raportnya hanya ada nilai 5,6 dan 7 akan menjamin bahwa mereka tidak sukses dan tidak bisa mengatasi kehidupan mendatang dengan baik.
Itu adalah pertanyaan yang perlu dijawab dengan renungan dan menghilangkan ego sebagai orang tua. Pantaskah anak usia 4-6 tahun, yang memiliki konsentrsi belajar 10-15 menit dijejali dan dipaksa untuk belajar baca, tulis, hitung yang orientasinya adalai nilai dan nilai? Siapa yang bertanggung jawab jika nilai bagus dan DANEM tertinggi tidak menjamin mereka sukses dikemudian hari? Siapa yang berdosa jika nilai-nilai tertinggi yang diraihnya menjadikan mereka bunuhdiri karena putus asa, tidak diterima diperguruan Tinggi Negeri dan sulit mencari kerja?
Apakah pertanyaan itu pernah manjadi renungan bagi para orang tua?

to be continue di sucihida.wordpress.com

Comment by suci

Oleh: Suci Hidayati, S.Pd

Bagaimana nilai hasil ujian mu? berapa hasil nilai tes IQ anak anda? Pertanyaa itu masih sering kita dengar atau jumpai pada sebagaian orang tua atau para guru. Namun nilai IQ yang bukan satu-satunya elemen penting sebagai penentu keberhasilan anak dalam belajar, masih seringkali ditanggapi negatif oleh para orang tua dan guru. Meskipun banyak teori dan pakar yang menyampaikan bahwa nilai IQ bukan segalanya, sepertinya masih banyak para orang tua dan guru yang bersih kukuh dengan pandangannya bahwa nilai IQ adalah elemen yang mendasar atau penentu keberhasilan sang anak.More…

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :

1. Faktor Keturunan

Sebuah penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal. Hampir 90% perkembangan intelgensi berkembang saat Si anak dalam kandungan.
2. Faktor Lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Ada perbedaan yang mendasar antara IQ dan Intelgensi. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Lalu bagaimanakah intelgensi dianggap sebagai titik berat untuk menentukan kecerdasan sang anak?Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat. Ternyata IQ bukan lah segalanya, terbukti mulai muncul tes Inteligensi dan Bakat. Seperti apa dan bagaimana bakat yang ada pada setiap anak? Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

Selain itu ada juga hubungan yang terkait antara Inteligensi dan Kreativitas yang dimiliki oleh setiap anak. Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas. Artinya lagi-lagi terbukti bahwaIQ bukanlah satu-satunya elemen yang menentukan kecerdasan dan keberhasilan sang anak.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Bagi guru dan para orang tua hendaknya mulai memperhatikan elemen lain yang pada dasarnya dapat dikembangkan, tidak hanya IQ tapi EQ dan ESQ pun perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan kecerdasan sang anak

Sumber: blog sport/IQ

Comment by sucihida

saya ingin tahu lebih banyak ttg kurikulum dan target pencapaiannya

Comment by dasukiriyadh

mohon segera ada jawaban

Comment by dasukiriyadh

untuk mengetahui seluk beluk pendidikan era ini dan bagai mana solusi mutahirnya bisa melihat
di sevenlevel.wordpress.com
dengan artikel berjudul compang-camping pedidikan saat ini, saatnya islam memberikan solusi

Comment by sevenlevel




Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: